PENDIDIKAN
Bahwa mendengar itu merupakan sesuatu yang abstrak tetapi berwujud, mendengar itu tidak kelihatan, misalnya pada orang yang bertapa itu dia diam, tetapi dalam dunia meditasinya orang bertapa tersebut sebenarnya bergerak terus menerus, seperti halnya dengan orang wiridan / berdzikir, orang yang berdzikir itu sebenarmya berawal dari diam tetapi dimensi didalamnya itu sebenarnya sedang mendengarkan omongan dirinya sendiri.
Seperti yang sudah diketahui bahwa
tokoh Pendidikan yang mendunia dalam dunia Pendidikan yatu Ki Hajar Dewantara. Beliau merupakan tokoh mercusuar pendidikan, tidak hanya di Indonesia melainkan juga di Finlandia
yaitu salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia juga menganut pola/
sistem yang didalamnya mengandung pola dari Ki Hajar
Dewantara. Dengan kata lain Ki Hajar Dewantara merupakan guru dari pola
Finlandia, salah satu negara yang sistem pendidikannya lebih sukses. Pendidikan di Indonesia, dalam hal ini saya hanya akan membahas tingkat sekolah dasar saja. Pada zaman dahulu sebenarnya sudah menerapkan sistem/ kebiasaan yang bagus yaitu lebih menekankan pada pendidikan karakternya. Pada setiap pembelajaran siswa diam mendengarkan penjelasan dari materi yang disampaikan oleh guru nya. Sesungguhnya kebiasaan tersebut baik karena belum tentu siswa yang hanya duduk diam mendengarkan saja tidak memahami dan tidak mengerti juga mengikuti pembelajaran yang disampaikan. Bahkan pada zaman dahulu siswa-siswa yang dididik dengan sarana prasarana seadanya justru lebih pandai dan mampu mengingat pembelajaran yang disampaikan. Karena jika kita kembali pada memahami karakteristik siswa terlebih pada minat dan kreativitas nya itu tidak sama pada masing-masing siswa saat mendengarkan penjelasan dari gurunya di kelas. Zaman dahulu hanya ada lampu penerangan berupa lampu ceplik/ lilin saja sebagai penerang saat belajar malam, dan itulah yang menyebabkan motivasi belajar anak pada zaman dahulu lebih tinggi untuk mempelajari pengatahuan meskipun hanya disampaikan lewat guru dan buku yang seadanya. Rasa keingintahuannya lebih tinggi sehingga penyerapan terhadap materinya juga lebih tahan lama. Sedangkan pada generasi zaman sekarang anak-anak justru lebih cenderung mempunyai minat dan motivasi belajar yang kurang semeningkat zaman dahulu. Padahal anak sudah dibekali dengan sarana dan prasarana yang lebih baik dibanding zaman dahulu. Mungkin disebabkan karena banyaknya pengetahuan dan cabang ilmu yang meluas dan tuntutan (ada batas minimal pencapaian dalam setiap pelajaran) yang harus dikuasai dan tidak diimbangi dengan kegiatan/aktifitas non akademik (bermain) setiap harinya sehingga fokus anak tidak tertuju pada satu minat dan kreativitas nya dalam menyukai suatu tujuan/capaian dalam belajar. Anak-anak zaman sekarang ini setiap harinya hanya difokuskan untuk selalu belajar full dengan mengikuti les bimbel ataupun les privat dan menurut pengamatan saya kurang dikasih kesempatan untuk bermain bersama teman seusianya.
Tokoh mercusuar Pendidikan di Indonesia
yaitu Ki Hajar Dewantara mempunyai nama asli Raden Mas Soewardi Soejarningrat. Kata
“Hajar atau Ajar” berasal dari aksara jawa “Ha” diberi taling tarung menjadi “Ho”
atau “wong”, Ho/ wong tersebut artinya sesuatu yang meruang atau tidak terbatas
jika hendak diisi apapun. Sedangkan kebalikan dari “wong” pada zaman sekarang
yaitu “zonk” dengan arti kosong, kosong disini maksudnya dapat diisi dan terbatas apabila sudah diisi. Mengapa Ki Hajar Dewantara tidak menggunakan
nama aslinya? Dikarenakan Beliau ingin menyembunyikan identitasnya sebagai
seorang bangsawan (Soejarningrat) agar dapat dengan mudah membaur di masyarakat/rakyat biasa tanpa memikirkan status ningratnya.
Pendidikan Nasional Ki Hajar
Dewantara menyoroti secara menyeluruh kesatuan Indonesia seperti apa dan
bagaimana bisa memberi rasa cipta dan lahir dari rasa Kemerdekaan. Kemerdekaan lebih
dikenal dengan sebutan Freedom dibandingkan dengan Independent. Maksudnya bahwa
freedom/Kemerdekaan yaitu memahami keterbatasan/ batas-batasan dengan kata lain
hilangnya batas-batasan yang dilakukan penjajah terhadap Indonesia. Menurut Cak
Nun, Kemerdekaan yaitu bagaimana manusia memahami batasaan-batasan. Sedangkan
menurut Moh. Aniq bahwa Kemerdekaan itu perumpamaan saat bermain sepak
bola, ada batasannya, seperti saat menggiring bola dan menendang bola ke gawang
hingga dapat mencetak gol itu ada batas-batasannya.
Kemerdekaan menurut
sifatnya yaitu:
- Memahami potensi yang kita miliki/ berdiri sendiri.
- Tidak bergantung pada orang lain, menurut Ki Hajar Dewantara jika kita menggantungkan bantuan dari orang lain maka kita akan merasa wajib dan harus membalas budi terhadap orang tersebut, dan itu hal yang berat dan dapat membahayakan. Jadi biasakan untuk tidak mudah bergantung pada orang lain.
- Dapat mengatur hidup sendiri.
Nailul Fauzziyah (15120405)
List Blog filsafat 7A :
1. Ibnu masud 15120218
http://ibnumasud97.blogspot.com/2018/10/pendidikan-nasional.html
2. Devi Endah Prastiwi 15120441
http://deviendahprastiwi.blogspot.com/2018/10/pendidikan-nasional.html
3. Ismaul Amalia 15120007
https://ismaulamalia16.blogspot.com/2018/10/filsafat-pendidikan.html?m=1
4. Dewi Krisdiyanti 15120285
http://dewipendidkan.blogspot.com/2018/10/pendidikan-indonesia-pendidikan.html
5. Neneng Zuliasih 15120016
http://flsftpnddknnasional.blogspot.com/2018/10/pendidikan-nasional.html
6. Nuroh difallah 15120497
http://nurohdifallah15120497.blogspot.com/2018/10/filsafat-pendidikan-materi-pertemuan-ke.html
7. Anisa Rona Soraya 15120447
http://anisaronasoraya3.blogspot.com/2018/10/nama-anisarona-soraya-npm-15120447.html?m=1
8.ghofar76.blogspot.com
9. Riskha Khoirul Ulya 15120219
https://riskaaakhoirululya.wordpress.com/2018/10/05/pendidikan-indonesia/
10. Susilo bayu m
http://susilobayumustofa.blogspot.com/2018/10/ki-hajar-dewantara-bab-1.html?m=1
11. Ahmad Haris Hidayat 15120334 http://filsafatpendidikan15120334.blogspot.com/2018/10/pendidikan-nasional-mendengar-dalam.html
12. Meiyani Lutfil Khoiriyah 15120450
http://meiyanilutfilk.blogspot.com/2018/10/filsafat-pendidikan.html
13. EKO NUR FATONI 15120020
fatoniekonur.blogspot.com
14. Khafidzoh Asfihani
https://asfihani96.wordpress.com/2018/10/04/pendidikan-nasional/#more-28
15. Dyah Saraswati (15120364)
http://dyah15.blogspot.com/?m=1
16. Nailul Fauzziyah (15120405)
http://nailulfauzziyah7.blogspot.com/2018/10/filsafat-pendidikan.html
18.feby dwi angrainy_15120029
https://febydwiangrainy.blogspot.com/2018/10/filsafat-pendidikan.html?m=1
19. Nur Tri Atika (15120040)
https://nurtriatika.blogspot.com/2018/10/pendidikan-nasional-ki-hajar-dewantara.html?m=1
20. Martiya zulfa risty 15120039
http://martiyazulfaristy.blogspot.com/2018/10/salahsatu-hal-yang-saya-dapatkan-dari.html?m=1
21. Atik Budiarti 15120010
https://atikbudiarti31.blogspot.com/?m=1
22. Intan Nur Fatikha Mulya 15120033
http://filsafatpendidikanintan.blogspot.com/2018/10/filsafatpendidikan-dalamdunia.html
23. Sukma Rudi Nugroho 15120212
http://filsafatpendidikansukmarudi.blogspot.com/2018/10/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
24. Bagas Panur Permana 15120382
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=360714795342996278#editor/target=post;postID=2880935962457226595;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=postname
25. Bayu Saputro 15120023
http://bayusaputro1st.blogspot.com/2018/10/filsafat-pendidikan-pendidikan-nasional.html?m=1
26. Dhimas Oeka Aji W 15120013
http://dhimaswicaksana97.blogspot.com/2018/10/masalah-kompleks-pendidikan.html
27. Mahmudi https://mahmdudi018.blogspot.com
28. Lina Muntasiroh
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2448198547003412197#editor/target=post;postID=2541259589145244413;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=0;src=postname
29. Hadiah hana putri (15120481)
http://15120481hana.blogspot.com/?m=1
30. Fadila Nurfi Ardina (15120322)
https://falidafurni.blogspot.com/2018/10/saya-untuk-pertemuan-kedua-mata-kuliah.html?m=1
Komentar
Posting Komentar